Langsung ke konten utama

Resep Odading, Renyah di Luar dan Lembut di Dalam

 

Odading alias Bolang-Baling atau Galundeng disebut juga Kue Bantal (Foto: Dok.Pribadi/Nurul Astuti)

Kue satu ini memiliki beberapa nama sesuai dengan daerah masing-masing di Nusantara. Odading kalau di Bandung. Di kota saya Yogyakarta menyebutnya Galundeng. Lain pula untuk daerah Semarang sekitarnya memberi nama Bolang-Baling. Nah kalau Jakarta biasa menyebut Kue Bantal. Betapa beragam istilah untuk kue satu ini yang sempat viral karena unggahan Mang Oleh di salah satu tempat jualan Odading yang laris di Bandung. 

Ternyata untuk membuat kue Odading ini gampang dan cepat. Saatnya kita bisa membuat sendiri kue Odading atau Galundeng di rumah. Yuk kita coba resep ini.

Bahan-bahan untuk membuat kue Odading alias Bolang-Baling (Foto: Dok.Pribadi/Nurul Astuti)

Bahan - bahan yang disiapkan:
✓ 250 gr tepung terigu (diayak dulu)
✓ 1 sdt ragi instant (bisa Fermipan atau Mauripan)
✓ 1 butir telur
✓ 80 ml susu cair ( bisa ganti air putih ). Kalau pakai susu lebih gurih rasa adonannya.
✓ 3 sdm gula pasir ( sesuai selera bisa tambah atau kurang). Kalau ingin lebih manis bisa tambah. 
✓ 1,5 sdm margarin 
* Sebaiknya gula pasir dilarutkan dulu dalam susu cair untuk hasil adonan yg lembut. 

✓Topping : wijen

Sebaiknya gula pasir dilarutkan dulu pada susu cair (Foto: Dok.Pribadi/Nurul Astuti)

Cara buat : 
✓ Campur semua bahan. Urutannya , tepung, ragi instan , kemudian aduk dengan spatula.  Lanjut masukkan telur. Aduk lagi.  Setelah itu masukan sedikit demi sedikit susu cair. Aduk kembali. Kemudian masukkan margarin. Untuk tahap ini adonan bisa diaduk dengan tangan. Jangan lupa tangan dibersihkan dulu ya.

Proses memasukkan telur ke dalam adonan (Foto: Dok.Pribadi/Nurul Astuti)
✓ Uleni adonan dengan tangan sampai kalis. Menguleni adonan bisa menggunakan teknik seperti oreng mencuci baju secara manual. Mirip gerakan menggilas baju. Adonan kalis berarti adonan sudah tidak lengket lagi dan teksturnya elastis.

Adonan yang sudah diuleni menjadi adonan yang kalis (Foto: Dok.Pribadi/Nurul Astuti)

✓ Diamkan adonan (proofing) yang sudah kalis tersebut selama 45 menit dalam wadah tertutup. .

Proofing adonan selama 45 menit (Foto: Dok.Pribadi/ Nurul Astuti)


Adonan yang mengembang setelah diproofing selama 45 menit (Foto: Dok.Pribadi/ Nurul Astuti)

✓ Setelah 45 menit proofing , adonan mengembang menjadi berukuran lebih besar. Selanjutnya adonan siap dicetak. Pipihkan adonan dengan menggunakan rolling pin atau botol. Ketebalan 1/2 cm. Rapikan  pinggiran adonan pipih tersebut.
✓ Kemudian  taburi permukaan adonan yang sudah dipipihkan dengan wijen. Caranya permukaan adonan diolesi air dengan menggunakan kuas. Selanjutnya taburi wijen. Tekan tekan lembut agar lebih melekat.

Adonan yang telah dipipihkan selanjutnya ditaburi wijen (Foto: Dok. Pribadi/ Nurul Astuti)
✓ Selanjutnya potong potong adonan 

Adonan pipih yang telah ditaburi wijen selanjutnya dipotong-potong (Foto: Dok.Pribadi/ Nurul Astuti)


✓ Adonan yang telah dipoting-potong selanjutnya didiamkan lebih kurang 20 menit. Tutup adonan tersebut dengan kain bersih.
✓ Siapkan wajan berisi minyak goreng. Goreng adonan odading pada api kecil. Goreng sampai berwarna kecoklatan. Ini prosesnya cepat, jangan sampai gosong ya.

Menggoreng Odading (Foto: Dok.Pribadi/ Nurul Astuti)

✓ Kue Odading atau Bolang-Baling atau Galundeng atau Kue Bantal siap disajikan. Cocok untuk teman minum teh atau kopi. Itu saya sandingkan odading dengan donat karena bersamaan membuat odading saya juga membuat donat. 

Odading dan Donat (Foto: Dok.Pribadi/Nurul Astuti)

Selamat mencoba teman-teman. Semoga berhasil. Juga semoga bisa menambah daftar kue buatan sendiri. Tentunya akan menambah keceriaan keluarga dengan sajian kreasi masakan Bunda. Terima kasih.

Silakan mengikuti akun media sosial saya di :

IG  @nurul_triedhiastuti
FB  Nurul Astuti
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Tiga Paragraf (Pentigraf)

Foto: Dok.Pribadi/Nurul Astuti Pentigraf  singkatan dari Cerpen Tiga Paragraf. Digagas pertama sekali oleh Sastrawan dan Akademisi Universitas Negeri Surabaya Dr. Tengsoe Tjahjono. Menulis adalah kegiatan yang dapat membahagiakan hati. Karena dengan menulis kita menjadi terus belajar agar diri ini memeroleh ilmu berguna dan pada akhirnya bisa berbagi ilmu tersebut kepada orang lain.  Saya, sebagai ibu rumah tangga menjadikan kegiatan menulis bagian dari warna-warni kehidupan sehari-hari. Menulis apa yang dilakukan, menulis apa yang dibaca, menulis dari yang didengar dan yang dilihat. Alhamdulillah, menyenangkan sekali. Kembali lagi ke Pentigraf. Saya suka sekali menulis cerita model Pentigraf ini. Ada tantangan tersendiri dalam menulis Cerpen Tiga Paragraf  karena menuangkan ide dan unsur-unsur cerita dalam ruang yang sempit. Mengasyikkan sekali karena cerita disajikan secara ringkas sehingga dengan cepat dapat dinikmati. Terlampir saya tulis beberapa hal terkait penulisa...

Resep Roti Tawar Kukus Metode Autolisis

Roti tawar kukus yang barusan matang (Foto:Dok.Pribadi/Nurul astuti) Roti tawar adalah jenis roti yang sangat digemari. Cocok sekali dihidangkan untuk sarapan pagi. Bisa dimakan tanpa olesan bahan lain atau jika ingin lebih enak diberi olesan margarin dan selai.  Kali ini saya akan berbagi resep roti tawar kukus. Hasilnya sangat lembut dan moisty (lembab). Teknik kali ini adalah metode autolyse atau autolisis.Teknik autolisis adalah teknik membuat adonan roti dengan mencampurkan tepung dengan air terlebih dulu tanpa ragi. Diberi jeda waktu minimal 20 menit dan maksimal sekitar 4 jam Baru setelah masa jeda itu adonan diberi ragi.  Dengan pencampuran air dan tepung dulu tanpa ragi akan membuat proses gluten lebih baik. Gula akan beristirahat kemudian menyatu sehingga proses gluten lebih teratur. Nantinya akan menghasilkan adonan roti yang lebih lembut. Setelah proses pengistirahatan adonan ini baru kemudian diberi ragi. Roti tawar kukus yang barusan dileluarkan dari loyang (Foto...

Cerpenku : Paman Edwin

  Paman Edwin Nurul Astuti   Ilustrasi untuk cerpen Paman Edwin (Foto: Dok.Pribadi/Nurul Astuti) Aku suka sekali dengan Paman Edwin. Sejak mama tidak lagi hidup seatap dengan papa, paman Edwin yang sering menemani diriku. Aku juga tidak tahu, mengapa papa meninggalkan mama. Aku hanya mendengar mama pernah marah-marah kepada papa dengan menyebut seorang nama perempuan. Tante Elly namanya. Aku kenal dengan t ante Elly. Tante cantik teman mama dan papa. Dan mama menyebut nama itu dengan wajah berwarna merah keungu-unguan. Sampai-sampai mama melempar guci China pemberian kakek yang indah sekali. Guci itu hancur berkeping-keping dengan tangisan mama yang terburai-burai. Beberapa minggu setelah itu papa tidak hidup bersama kami lagi. Dan mama menangis lagi, kali ini mama menangisi guci yang pecah. Mama menyesal sekali. Paman Edwin ibarat capung yang berterbangan di taman bunga yang indah. Mengajakku bermain sambil berterbangan kian kemari. Paman pintar sekali bercerita. Mendong...